October 14, 2021

Kuliner Menggelitik Khas Sumatera Barat

Kuliner Menggelitik Khas Sumatera Barat – Aroma khas kuliner menggelitik rasa, berbuah penasaran. Dari belakang sebuah rumah, sayup-sayup tercium aroma khas kuliner yang menggoda lidah untuk segera mencicipinya.

Ternyata benar adanya, seorang ibu ditemani dua putrinya sedang asyik mengaduk adonan yang berbahan basic tepung terigu. Kuliner khas yang oleh masyarakat Sumatera Barat dinamakan Kembang Loyang memang bukan suatu hal yang baru lagi.

Dalam kenyataannya, kuliner satu ini sudah akrab berbaur didalam keseharian masyarakat Minang sehingga tidak heran kalau di masa pandemi ini, keberadaannya tetap memberi peluang untuk masyarakat dapat bertahan hidup dari gerus Covid-19 yang sudah melemahkan sendi-sendi perekonomian selama berbulan bulan,

Ya, program seribu dapur adalah satu dari sekian solusi yang ditawarkan untuk masyarakat dapat bangkit dari keterpurukan, bangkit dari pandemi yang sudah melumpuhkan beraneka aktifitas masyarakat sebagaimana diungkapkan Pengurus Kadin Sumatera Barat, Rahim Mardanis ketika ditemui RRI di kediamannya.

“Kita kudu beraktifitas, kita kudu melacak solusi, bagaimana kehidupan ekonomi keluarga berjalan terus, keliru satunya melalui program seribu dapur. Dengan jenis sendiri-sendiri, bisa saja kita dapat mengakibatkan satu terobosan untuk bertahan di masa pandemi ini,” ujar Rahim Mardanis kepada RRI,

Menurutnya, pandemi bukan alasan masyarakat terpuruk tetap didalam keadaan yang tidak menguntungkan. Masih banyak potensi yang dapat dilirik selama ada kemauan dan ketulusan untuk bertahan hidup, keliru satunya dengan melirik potensi lokal dan menjadikannya bagian dari upaya menata diri di sedang pandemi ini.

Hal yang tidak dapat terbantahkan kalau sejauh ini banyak biduk yang karam lantaran tidak kuasa menahan terjangan tuntutan cost hidup yang tidak kunjung dapat terpenuhi. Kesulitan ekonomi diperparah tambah menyempitnya peluang berupaya mengakibatkan kesemrautan roda perekonomian masyarakat.

“Lambat dan pasti kita kudu dapat mengembangkan product unggulan dari keluarga masing-masing. Pemasaran kudu dirubah dengan cara online sehingga dapat memberi akses lebih enteng bagi konsumen,” ungkap Rahim.

Di Sumatera Barat, tidak sedikit pelaku UMKM yang meraih kucuran dana segar dengan ssitem pengembalian modal yang tidak membebani pelaku usaha. Program seribu dapur yang sudah diancang sejak awal terealisasi di lingkungan masyarakat. Dapur warga saat itu juga berasap, kebutuhan hidup terpenuhi melalui kreatifitas yang terus dibangun dari tempat tinggal ke rumah.

Jamahan dan sentuhan lembut Pertamina menyapa warga di pelosok nusantara benar-benar dirasakan manfaatnya oleh Murniati, pengusaha kuliner khas Kembang Loyang di Nagari Toboh, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

“Saya Murni, kegiatan sehari hari berjualan kue Kembang Loyang dan bisnis ini sudah memberi tambahan kehidupan bagi keluarga. Program seribu dapur memberi efek luar biasa kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid19,” papar Murni.

Pengalaman pahit meniti kehidupan di masa pandemi juga dirasakan Yossy, ibu tempat tinggal tangga yang jadi salah satu tumpuan dan tulang punggung keluarga. Berbekal kebolehan dan keterampilan yang dimiliki sebelumnya, Yossy optimis menata kehidupan.

Di sementara tabungan sudah tidak ulang bersisa, tuntutan kehidupan tambah keras mencambuknya. Namun sebagai orang tua tunggal yang berkewajiban memberi nafkah bagi anak-anaknya, Yossy tidak berputus asa. Doanya diijabah, pemerintah memberinya peluang dan keyakinan mengelola modal bisnis yang dikucurkan.

Keterampilan menjahit dan menyulam memberi tambahan sentuhan untuk melirik potensi di sedang pandemi yang kini masih bergulir. Kebutuhan masyarakat akan masker saat itu juga memutar otak wanita kelahiran Payakumbuh ini untuk memberi tambahan sentuhan positif terhadap karya-karyanya yang inovatif.

“Konektor masker sekarang sedang booming-boomingnya, ada sebagian tipe masker yang diproduksi dari bahan kain dan untuk sekarang ini bahan rajutan banyak sekali peminatnya,” mengerti Yossy

Berbekal modal bisnis yang dikucurkan Pertamina tersebut, Yossy memproduksi beraneka atribut dan aksesoris wanita yang sama dengan penerapan protokol kesehatan.

Tidak tanggung-tanggung, permintaan mengalir dari semua lini. Yossy yang semula bekerja sendirian kini kudu meningkatkan tenaga untuk memenuhi permintaan pembeli dari beraneka daerah.

Sentuhan seni dan kelembutan hati didalam berkarya dan berinovasi menjadikan aneka product yang di produksinya di lingkup tempat tinggal tangga itu laris manis di pasaran.

Murniati dan Yossy cuma sebagian dari ribuan pelaku UMKM yang sudah merasakan sentuhan tulus pemerintah di daerah. Apa pun berhasil yang diraih seseorang, tidak terlepas dari kepedulian yang dibangun lingkungan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *